Gorontalo Masuk Zona Rawan 1

RadarGorontalo.com – Pelanggaran pilkada hingga sepekan menjelang pelaksanaan pemungutan suara (PSU) terus meningkat. Hingga kemarin (7/2), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat ada lebih dari 300 laporan yang tersebar di berbagai daerah se Indonesia.

Di Gorontalo sendiri, ada tiga daerah yang masuk zona merah Bawaslu. Yakni Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Bone Bolango. ”Kemarin sekitar 300 lebih yang sudah dilaporkan ke kita (Bawaslu),” kata anggota Bawaslu Nelson Simanjuntak di kantor KPU, Jakarta,(7/2). Nelson mengungkapkan, angka rill bisa jadi jauh lebih banyak dari angka yang dimiliki Bawaslu. Sebab, ada sejumlah daerah yang tidak melaporkan datanya secara kontinu.

Dari angka yang masuk, Nelson menyebutkan, jenis pelanggaran terbanyak adalah pelanggaran kampanye. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai perusakan alat peraga, pemasangan alat peraga yang tidak sesuai, hingga penghadangan kunjungan kampanye. ’’Hari ini sampai beberapa hari nanti kita konsolidasi data,” imbuhnya. Terkait persebarannya, Nelson menyebut Aceh, Banten, dan Papua paling mendominasi.

Dikutip dari Jawa Pos, peta kerawanan per Polda, untuk Gorontalo masuk dalam klasifikasi rawan 1 atau sedang, setara dengan Metro Jaya (Jakarta), bersama 19 daerah lainnya. Sedangkan titi rawan tinggi ada di daerah seperti, Aceh, Lampung, Banten, Bali, Kalbar, Sulut, Sultra, Maluku, dan Papua.

Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz meminta Bawaslu meningkatkan pengawasan pada hari tenang. Sebab, masa tenang justru menjadi ajang kampanye yang sebenarnya. Eskalasi politik pun semakin panas. ”Pengalaman kita, real campaign justru terjadi di masa tenang,” ujarnya kemarin.

Masykur menjelaskan, selama ini masa tenang kerap dijadikan kesempatan terakhir bagi paslon untuk memengaruhi pilihan pemilih. Bukan tidak mungkin cara-cara yang inkonstitusional juga dilakukan. ”Kajian kami, di masa tenang masih ada sekitar 10 persen pemilih yang belum menentukan pilihan. Ini yang dicari,” imbuhnya.

Aspek lain yang harus diperhatikan adalah pembersihan alat peraga sebelum masuk hari tenang. Jika ada satu saja alat peraga yang luput, persoalan yang muncul tidak sederhana. Biasanya, paslon akan saling menuduh. ’’Paslon akan protes, kenapa baliho saya dicopot, sedangkan baliho lawan tidak dicopot,” tuturnya. Jika itu terjadi, hari tenang akan menjadi gaduh. Akibatnya, konsentrasi pemilih untuk memilih paslon berbasis program kembali tertutupi dengan isu konflik yang tidak substansial. (jpg/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *