Gagal Paham, Anak Ugal-ugalan Dianggap Biasa

RadarGorontalo.com – Mau di kota atau di desa, melihat anak-anak yang berbocengan tanpa menggunakan helem sudah menjadi pemandangan biasa. Tak jarang mereka memacu kendaraannya hingga kecepatan tinggi. Sampai yang melihat pun ngeri sendiri.

Utamanya saat Ramadan. Banyak sekali anak-anak ugal-ugalan dini hari hingga waktu subuh. Yang katanya sudah tradisi bulan puasa. Sebagian orang tua pun ketika ditanyakan Radar Gorontalo mengatakan hal ni sudah biasa. Sebagian lagi merasa kasihan jika anaknya harus jalan kaki. Mereka tidak memahami kondisi ini, tidak mendukung usaha berkendara yang lebih bertanggung jawab.

Perlu diketahui, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban dalam kecelakaan lalu lintas. Tak sedikit hingga meninggal dunia. “Di kompleks pa saya, ada dua anak SMP meninggal hanya berselang dua hari. Sama-sama cilaka di motor,” kata Hendrik warga Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo.

Tak hanya itu, Jum’at (12/6) , di Kelurahan Liluwo, kompleks pasar Liluwo terjadi kecelakaan mengenaskan. Seorang anak dengan kecepatan tinggi menabrak rambu-rambu lalu lintas hingga mati ditempat. “Waktu itu saya hanya ada barmain dam deng teman saya, tiba-tiba terdengar suara tabrakan. Anak itu talempar dan mati ditempat dengan motor barunya,” tukas Fajar, warga Kelurahan Pulubala, Kecamatan Kota Tengah.

Ketika di tanyakan, Wakil Walikota Budi Doku pun angkat bicara. Ia mengatakan, anak-anak adalah peniru terbaik di dunia. Saat mereka tak peduli pada nyawa mereka sendiri, maka lihat kelakuan orang dewasa di sekitarnya. “Barangkali itu yang terjadi. Anak-anak sejak pertama kali naik motor, sudah diajarkan untuk mengabaikan keselamatan. Yakni, sejak seorang bapak mengajak anak pertama, kedua, dan istrinya untuk menumpangi sepeda motor yang ia kendarai,” terangnya.

Satu motor untuk empat orang, sementara dalam aturan bahwa sepeda motor hanya boleh membawa satu pengendara dan satu penumpang. Namun kadang orang dewasa juga beralasan belum mampu beli mobil. Sebenarnya tak ada yang meminta orang dewasa untuk membeli mobil. Yang diminta adalah lebih memperhatikan keselamatan anak dan keluarga masing-masing. “Untuk bepergian bersama keluarga, alangkah baiknya disimpan saja sepeda motor itu di garasi. Tanpa mobil sekalipun, bukankah alternatif kendaraan umum selalu ada,” jelas Wawali.

Setiap anak berpotensi menjadi korban kecelakaan tiap kali dia duduk di atas jok sepeda motor. Maka sebagai orang yang lebih dewasa, harap Wawali, harus mencegah terjadinya hal yang tak perlu. “Tidak ada kecelakaan yang perlu terjadi. Jangan korbankan hidup anak-anak kita untuk hal-hal yang tidak perlu,” tutup Wawali. (rg-63/rg)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *