Full Day School Mulai Makan Korban

Pemerintah Jangan Tutup Mata

RadarGorontalo.com – Penerapan Full Day School (FDS) terus tuai kontroversi. Wakil rakyat di beberapa daerah, beberapa kali menyoroti pelaksanaanya, yang dianggap tidak siap dan cenderung menjadikan siswa sebagai korban kebijakan sekolah. Ironisnya lagi, penerapan FDS masih tahap percobaan, itupun hanya di sekolah-sekolah tertentu. Beberapa orang tua siswa mulai mengeluhkan anaknya yang jatuh sakit, dan menurut dokter itu gara-gara kelelahan.

Kepada Radar Gorontalo, salah satu orang tua siswa yang anaknya masih duduk di bangku kelas II sekolah dasar mengaku, hampir lebih sepekan anaknya tidak masuk sekolah karena sakit, bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Dokter pun meminta, agar anak tersebut diistirahatkan dulu dari berbagai aktifitas. Sungguh aneh, karena anak-anaknya di rumah, waktu bermainnya sedikit.

Dirinya menduga, energi sang anak terkuras habis di sekolah. “bagaimana tidak kecapean. masuk sekolah harus pukul 06.30 Wita, dan pulangnya jam 16.00 Wita. Seharian mereka berjibaku dengan pelajaran di sekolah. Tak jarang, pas pulang anak-anaknya langsung istrahat. Dan ini terjadi hampir seminggu penuh,” keluhnya. Hal senada juga disampaikan beberapa orang tua siswa yang mengaku, sejak penerapan FDS, anak mereka justru sakit-sakitan. Rata-rata, penegasan dokter mereka terlalu lelah.

Beberapa fakta di lapangan, bahkan hasil penelusuran anggota dewan. Kebanyakan penerapan FDS, dilakukan secara sepihak oleh sekolah, tanpa terlebih dahulu duduk bersama dengan komite. Kesan dipaksakan pun, sangat nampak. Padahal, tak ada paksaan dari dinas atau pemerintah daerah. Kebijakan FDS diserahkan ke sekolah masing-masing.

Fakta yang ditemukan DPRD Kota Gorontalo, rata-rata sekolah tidak siap, dan tak tahu mau buat apa dengan FDS. Alih-alih diberi materi tambahan seperti ekstrakurikuler, seharian para siswa justru dicekoki dengan ilmu pengetahuan umum. Ironisnya, sampai sekarang belum ada tindakan dari pihak pemerintah daerah atau provinsi. Padahal, pro kontra terus bergulir.

Penerapan FDS, yang masih ujicoba untuk sekolah menengah pertama dan menengah atas, pada kenyatannya juga sudah diterapkan ke sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak. Ironisnya, evaluasi positif tidaknya penerapan sistem ini, sepertinya belum ada. (rg-34)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.