Fahri Ancam Sita Kantor DPP PKS

Fahri Hamzah

RadarGorontalo.com  – Ada hal menarik yang disampaikan Fahri Hamzah saat mengukuhkan pengurus Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) Gorontalo, Minggu (10/2) kemarin di Maqna Hotel, yakni soal perseteruannya dengan DPP PKS.

Menurut Wakil Ketua DPR RI ini, apa yang dilakukan oleh PKS terhadap dirinya merupakan penzoliman terhadap para kader vokal. Sehingga kata dia, PKS saat ini menuju ambang kehancuran, karena banyak kadernya yang selalu menganggap kalimat pimpinan PKS adalah hukum tertinggi atau taklid.

Dihadapan ribuan simpatisan Garbi, Fahri dengan lantang menyampaikan bahwa ada kesalahan berpikir dari awal yang menganggap seolah-olah kata-kata pimpinan PKS itu pasti lebih tinggi dari hukum negara.

Fahri mencontohkan perseteruannya dengan PKS yang terjadi tiga tahun belakangan. Dalam perseteruan itu, Fahri mengajukan gugatan atas pemecatannya oleh PKS.

Dalam gugatan ini Fahri menang telak 3-0. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hingga Mahkamah Agung mengabulkan gugatan Fahri Hamzah dan PKS wajib membayar ganti rugi materiil sebesar Rp. 30 miliar.

“Lawyer-lawyer oknum pimpinan PKS itu yang hanya ikut apa kata pimpinan, bukan hukum negara. Waktu di PN begitu, waktu di PT juga begitu, waktu di MA juga begitu.

Dianggap jika mengutip kata-kata pimpinannya bisa menang di pengadilan, ya gak bisa,” tuturnya. Bahkan Fahri Hamzah dikabarkan akan menyita kantor DPP PKS jika partai pimpinan Sohibul Iman itu tidak membayar Rp. 30 miliar.

Fahri kemudian menyinggung perihal sami’na wa atho’na atau kami mendengar dan kami taat di dalam PKS. Menurutnya, prinsip yang demikian membuat anggota PKS abai terhadap hukum negara dan hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh pimpinan PKS.

“Itu yang salah dan enggak boleh, enggak boleh orang berpartai begini, rusak partainya. Nanti kalau memimpin negara rusak negaranya,” kata Fahri yang disambut takbir para hadirin. (RG-31)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *