Evakuasi KM Bitila Indah Terbakar

Simulasi penanganan bencana, kapal motor Bitila Indah yang terbakar di pantai Pohon Cinta.

RadarGorontalo.com – Pantai Pohon Cinta Kamis (26/4) mendadak histeris. Tangisan dan teriakan dari saudara dan sanak keluarga menyelimuti kerumunan orang yang berada di bibir pantai Pohon Cinta.

Tim dari Basarnas, BPBD, Satgas Relawan Bencana serta pihak Kepolisian bersama petugas ambulans langsung terjun ke lokasi setelah mendapat informasi dari nahkoda kapal bahwa KM (kapal motor) Bitila Indah yang berangkat dari pelabuhan Paguat dengan tujuan Luwuk, Ampana dan Poso tiba-tiba terbakar di tengah perjalanan. Informasi terbakarnya kapal penumpang yang memuat sekitar 150 orang itu langsung diterima oleh pihak Basarnas dan BPBD Kabupaten Pohuwato.

Tepat di depan pantai Pohon Cinta tampak KM Bitila tengah terbakar. Tim Basarnas dan BPBD kemudian langsung terjun menuju lokasi KM Bitila Indah yang terbakar. Dari evakuasi yang dilakukan, ada beberapa orang korban yang sudah meninggal dunia sedangkan korban kebakaran maupun korban patah tangan dan kaki akibat terjepit peralatan yang ada di KM Bitila langsung dibawa ke rumah sakit dan Puskesmas terdekat.

Para orang tua korban, saudara, istri maupun suami dan anak korban tampak histeris melihat kejadian yang tak disangka-sangka itu. Mereka sepertinya tidak mau menerima kenyataan yang terjadi ini, karena keluarga mereka yang berangkat dalam keadaan sehat dan utuh secara fisik. Kendati demikian, mereka sangat berharap agar para korban bisa terselamatkan.

Demikian jalannya simulasi yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pohuwato dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana tingkat Kabupaten Pohuwato.

Kepala BPBD Ramon Abdjul menyampaikan, secara nasional di seluruh Indonesia 26 April diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional. “Untuk Kabupaten Pohuwato dipusatkan di Pohon Cinta. Simulasi ini merupakan rangkaian dari sosialisasi dan Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Satuan Relawan Bencana yang mengikuti simulasi ini dari Kecamatan Popayato, Buntulia dan Marisa. Disini mereka, selain diberikan materi dilanjutkan dengan simulasi dalam menangani bencana, sehingga kami berinisiatif melakukan simulasi di lautan. Mereka perlu latihan fisik, latihan tenaga, keterampilan, pengetahuan bagaimana penanganan bencana baik penyelamatan jiwa, harta dan lain sebagainya,” jelas Ramon. (RG-58)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *