Dugaan Salah Tangkap, Berujung Penganiayaan

Korban Jeremmy Mohamad Ilolu saat mendapat perawatan dan visum oleh tenaga medis

RadarGorontalo.com  – Dugaan penganiyaan yang dilakukan sejumlah oknum polisi terhadap terhadap Mohamad Ilolu, seorang pelajar yang baru berusia 16 tahun, berbuntut panjang.

Tak cuma mengadukan ke Polda Gorontalo sebagai tindakan kriminal penganiayaan, kasus ini juga dibawa ke DPRD Provinsi Gorontalo. Rencananya, Senin (12/11), para Aleg Puncak Botu itu akan menggelar hearing, yang menghadikan korban dan pihak kepolisian. Saat dikonfirmasi,

Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Paris R.A Jusuf menuturkan, hearing atau rapat dengar pendapat digelar dalam rangka menindaklanjuti aduan masyarakat yakni Aliansi Pemuda Peduli Keadilan (APEL), terkait dugaan pengeroyokan dan penganiayaan, yang dialami Jeremmy Mohamad Ilolu pelajar berusia 16 tahun.

“Persoalan laporan ini harus kami tindak lanjuti, dalam agenda rapat dengar pendapat bersama pihak Polda Gorontalo, bersama dengan korban. Guna mencari tahu duduk dari persoalan tersebut.

Apalagi yang menjadi korban dari dugaan laporan ini, adalah remaja masih usia belasan tahun yang masih perlu perlindungan. Baik itu secara emosional, sosial dan hukum,” tutur Paris.

Kronologis Penganiayaan

Jeremmy Mohamad Ilolu

Jeremy Mohamad Ilolu (16), seorang pelajar sekolah menengah atas terpaksa harus menjalani perawatan kesehatan, akibat luka memar di tubuh dan wajahnya, setelah terkena pentungan oknum Polisi.

Ironisnya, dugaan kuat Jeremy adalah korban salah tangkap, yang terjadi Sabtu 27 Oktober silam. Pengakuan korban, saat dini hari dirinya bersama rekan-rekannya yang lain hendak membeli makanan di kompleks eks terminal Andalas.

Namun ditengah perjalanan, dirinya dicegat sejumlah orang yang melarang mereka ke terminal, dengan alasan disitu ada sebuah kejadian dan banyak polisi.

Merasa tidak punya masalah, Jeremy tidak mengindahkan peringatan itu. Hingga kemudian, korban pun bertemu dengan salah seorang polisi tak berseragam yang sambil menenteng senjata di depan sebuah gang.

Beberapa orang sempat lari, sedangkan korban tetap tenang karena merasa tidak punya masalah. Oknum polisi tadi langsung menghentikan korban dan teman-temannya, karena menduga merekalah kelompok yang dikejar.

“Kalian yang melempari mobil polisi ?,” ujar korban meniru pertanyaan si oknum polisi kala itu. Kami baru saja tiba ditempat ini pak, jadi kami tidak tahu kejadian ini,” jawab korban.

Tidak percaya dengan jawaban yang diterima, korban mengaku dirinya dan rekan-rekannya, diminta untuk menanggalkan baju sambil berjalan merangkak ke arah toko Sentris.

Namun beberapa saat, datang lagi rombongan polisi lainnya menggunakan motor trail sambil meneriaki korban dan rekan-rekannya. Dan tiba-tiba, tanpa komando korban pun dipukuli, ditendang bahkan sampai terkena pentungan.

Mereka digelandang masuk ke mobil dalmas dan dibawa ke Mapolres Gorontalo Kota. “Ketika saya disuru berdiri oleh beberapa anggota Polisi, dan ketika hendak berdiri, saya langsung dipukul ke arah wajah saya, oleh oknum polisi berseragam.

Akibatnya, mata sebelah kanan saya bengkak, lebam dan hidung mengeluarkan darah. Setiba di Mapolres Gorontalo Kota, saya masih mendapatkan pukulan oleh anggota polisi, tepatnya ditampar polisi,” ungkap korban.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP Wahyu Try Cahyono, ketika dikonfirmasi, belum memberikan keterangan atas dugaan kasus yang melibatkan oknum polisi itu. (rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.