Dosen – Karyawan Terancam Dipecat

ilusrasi : Anwar/RG
ilusrasi : Anwar/RG

GORONTALO (RADAR) – Gara-gara informasi datang terlambat, aksi demo dosen dan karyawan Universitas Gorontalo, Senin kemarin, berujung blunder. Rupanya sesaat sebelum demo, pihak yayasan katanya sudah akan menyerahkan surat keputusan (SK) penyesuaian golongan, pangkat hingga kenaikan gaji per 1 Mei . Memang tidak dibatalkan, tapi gara-gara demo, sejumlah oknum dosen terancam dipecat.

Kata Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo lo Pohala’a (YPDLP) Jamal Mooduto, SE, MH, pihaknya siap mengambil langkah tegas terhadap sikap oknum-oknum dosen dan karyawan yang dianggap membangkang. Sejak melakukan demo 2 Mei, hingga saat ini diantara mereka belum juga mau berkomunikasi dengan pihak yayasan. Ini diawali dengan surat balasan yayasan terhadap petisi tersebut, yang meminta untuk melakukan pertemuan terkait penjelasan tentang apa yang kemudian dituangkan dalam tuntutan mereka. “Kita sudah mengkomunikasikan hal ini lewat surat balasan untuk melakukan pertemuan siang kemarin (dua hari lalu), tapi nampaknya mereka tidak mau berdialog. Demikian juga dengan rapat hari ini (kemarin, red) sudah kita komunikasikan, baik lewat medsos namun tak digubris sama sekali. Dengan situasi ini, maka hari ini mereka sudah di SP 2,” ujar Jamal.

Jamal pun lanjut mengatakan pihak yayasan, dalam hal ini oleh rektorat dijadwalkan bakal mengagendakan pertemuan, Rabu (4/5) hari ini. Tentu pihak yayasan berharap oknum-oknum dosen dan karyawan dapat ambil bagian untuk mengikuti pertemuan tersebut. “Kita beri waktu hinigga besok (hari ini, red) kalau mereka tidak juga hadir, maka dengan sangat terpaksa kita harus memberhentikan mereka,” tegas Jamal.

Ditempat terpisah, Ketua Serikat Dosen dan Karyawan UG Herdi Muhammad, ST, MT mengatakan apa yang dilakukan yayasan sangat tidak bijaksana. Jika terjadi pemecatan, maka akan berhadapan dengan soal sistem undang-undang ketenagakerjaan. Ini tentu akan berimbas pada penyelenggaraan pendidikan di UG. Mengingat di bulan Juni nanti setiap perguruan tinggi harus taat terhadap aturan Dikti, yakni penggunaan dosen minimal 6 orang dalam satu prodi. “Kalau saja disetiap prodi kita kehilangan satu dosen, maka tentunya kita akan di delete dalam pelaporan feeder di Dikti, sehingga otomatis tidak bisa lagi beroperasi. Lalu akan dikemanakan mahasiswa kita saat ini,” ujar Herdi yang membantah aksi mereka ditunggangi. Pasalnya, sebelum aksi sudah 3 minggu lamanya mereka mengambil langkah persuasif, sayang tak digubris. “Kita tidak mau ditekan-tekan, tidak mau seperti ini. Ini bukan jaman kolonialisme ,” tukasnya.

Lanjut Herdi, soal hipotesa pihak yayasan, bahwa katanya kalau gaji dosen dan karyawan dinaikkan, maka yayasan akan colaps, namun setelah kita kaji tidak seperti itu. Lagi pula kata Herdi, mereka bukanlah buruh pada umumnya, mereka adalah kaum intelektual dan tidak sama dengan buruh. “Kan upah kita tidak seperti buruh. Kalau cuma diancam seperti itu, hidup kita ditangan Allah dan rasul. Dan perlu diingat kalau satu orang yang dipecat, komitmen kita untuk sama-sama keluar. Lalu bagaimana dengan kelanjutan UG kedepan,” kata Herdi.

UG Lumpuh Setengah

Sementara itu,  dari pantauan Radar Gorontalo, 3 dari 6 fakultas yang ada, pelayanan akademiknya tidak jalan, seperti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan dan Fakultas Pertanian. Di kedua fakultas itu, sama sekali tidak ada aktifitas akademik, dari ruang perkuliahan hingga ruang dekan, kaprodi hingga dosen tidak ada satupun yang beraktifitas, bahkan sebagian besar terkunci dari luar. Sementara di Fakultas Pertanian, hanya ada beberapa staf penunjang akademik, termasuk juga Dekan Sofyan Abdullah. Sedangkan ruang kuliah, dosen dan kaprodi dalam keadaan kosong dan terkunci. Praktis hanya tiga fakultas lainnya yang menjalankan aktivitas seperti biasanya, yakni Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik. Rektor UG DR. Ibrahim Ahmad, SH, MH mengajak, dosen dan karyawan untuk duduk bersama untuk kemudian didialogkan apa yang menjadi aspirasi mereka. (RG-56)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *