Sen. Mei 20th, 2019

RGOL

Jangan Takut Bicara Politik

Dolly Tutup, Pindah ke Gorontalo, Salon Plus-plus Banyak Beroperasi

3 min read
ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Penutupan lokalisasi atau tempat prostitusi di kota-kota besar, tidak membuat pekerjanya tobat. Seperti para pekerja asal Dolly Surabaya yang justru menyasar Kota Gorontalo sebagai daerah destinasi mereka. Berkedok salon perawatan rambut, para PSK inipun menjalankan bisnis maksiat secara terselubung. Komisi Penanggulangan Aids (KPA) pun dibuat khawatir karenanya.

Gorontalo dipilih karena dianggap sedikit lebih longgar dari sisi aturan. Lihat saja, kendati sudah beroperasi lama, tapi salon plus plus itu seperti tak terjamah tangan aparat. Ketua KPA Kota Gorontalo dr. Riyana, membenarkan keberadaan salon plus plus itu. “Di Kota Gorontalo memang ada, di Kelurahan Tamalate dan Kecamatan Kota Selatan diantaranya. Soal data berapa jumlah yang terindikasi, tempat pijat plus-plus berkedok salon perawatan rambut, itu balum lengkap. Yang pastinyan mereka tersebar, dan terselubung pelakunya,” jelas Riyana, yang mengakui kesulitan mendeteksi penderita HIV/Aids yang bekerja di salon plus-plus itu.

Pijat Enak Gadis Dolly

Radar Gorontalo pun coba mengorek informasi di salah satu salon plus plus yang ada di Kota Selatan . Sepintas, tempat tersebut biasa saja, sama dengan salon-salon kecil bertarif murah. Pekerja disitu, hanya menawarkan jasa potong atau perawatan rambut saja. Mereka tidak menawari pelanggan dengan yang aneh-aneh, itu karena jasa plus plusnya terselubung.

Pelanggan yang ingin mendapatkan layanan itu, bisa bertanya langsung ke pegawai salon. “Ada urut gaga (pijat enak, red),” tanya sumber yang mendampingi Radar ke wanita karyawan salon. Seperti sudah biasa, si karyawan langsung menyambut dengan mengatakan “Ada pak, mau yang mulus atau tua?” Setelah oke dengan pilihan siapa yang akan memijat, perbincangan lanjut ke tarif. Besar kecil tarif disitu, tergantung tawar menawar dan harga akhir sudah termasuk biaya perawatan rambut.

Jika sudah deal, pelanggan diarahkan ke lorong sempit yang diujungnya ada ruangan semi permanen seukuran 3 x 2 meter, didalamnya ada handuk, dan tempat tidur. Begitu pintu dibuka, sudah siap seorang gadis berpostur tinggi, putih dan langsing plus sexy, yang siap memberikan jasa pijatan. Setelah negosiasi dan diberi tahu maksud tujuan, akhirnya si gadis yang logat jawanya begitu kental bersedia diwawancara.

Pengakuan di Gadis (nama samaran,red), dirinya berasal dari Jawa Timur. Tanpa malu-malu, Gadis mengakui kalau sebelum di Gorontalo, dirinya dulu bekerja di lokalisasi Dolly. Sejak Dolly ditutup, dirinya bersama kawan seprofesi, bingung bekerja di mana. Sejak masih muda, Gadis sudah terjun di dunia prostitusi. Hingga akhirnya, terdengar kabar ada kawan yang bekerja di Manado. Singkat cerita, Juli silam, Gadis dan kawan-kawannya mulai bekerja di bumi kawanua dan hingga akhirnya hijrah ke Gorontalo.

Sayang Gadis enggan membeber, tentang siapa yang mengenalkannya dengan pemilik salon. Apakah ada jaringannya, atau kenal begitu saja. Yang pasti, si gadis dolly ini mengaku, sejak dirinya bekerja di salon, pelanggan salon plus plus naik pesat. Konsumen datang dari berbagai latar belakang, yang pasti dari golongan menengah ke atas. Pasalnya tarif yang diberlakukan mulai Rp. 150 ribu, hingga Rp. 500 ribu. Dengan pembagian 40 persen ke pemilik salon, 60 persen untuk dirinya.

Kendati membenarkan, kalau dirinya tidak sendiri alias ada juga PSK asal dolly yang beroperasi di Gorontalo, tapi Gadis enggan membeber berapa banyak jumlah kawan-kawannya itu.

Kesbang Kota Siap Operasi

Kepala Kesbangpol Kota Gorontalo Arfin Muhamad sempat kaget saat tahu tentang info ini. “Sampai dengan saat ini kami belum mendengar hal itu, namun sebagai bagian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo, kami akan mecari tahu keberadaan tempat pijat ini. Dan akan menggelar operasi khusus terpadu, menyisir semua target sasaran. Dan ini tidak bisa dibiarkan,” singkat Arifin, saat dihubungi melalui selular Jumat (03/11).

Sebenarnya cerita prostitusi berkedok salon bukan cerita baru, apalagi untuk kalangan tertentu yang memang sudah menjadi konsumen layanan seperti itu. Hanya saja, ada kekhawatiran dari berbagai kalangan. Tak cuma akan mencoreng wajah daerah berjuluk Serambi Madinah ini, tapi juga keberadaan mereka akan memicu naiknya angka penderita HIV/Aids di Gorontalo. Dan ironisnya lagi, bisnis lendir itu tetap aman beroperasi, dan sepertinya tak tersentuh aparat.

Data yang ada menyebutkan, kasus penderita HIV-Aids di Provinsi Gorontalo, terus meningkat. Tercatat ada 260 kasus hingga 2017, dan Kota Gorontalo mencatatkan rangking tertinggi jumlah penderita, dengan angka 113 penderita. Itu belum termasuk, mereka yang belum melaporkan diri. (bink/RG)

Share

2 thoughts on “Dolly Tutup, Pindah ke Gorontalo, Salon Plus-plus Banyak Beroperasi

  1. ketua komisi penganggulangan Aids kota Gorontalo dr Riyana ??? oh sdh ada ketua KPA yg baru ya ? kok saya baru tau ? dan infonya dari mana nih ada salon esek esek di Gorontalo ? kalau ada, tolong infokan ke saya ya…

Tinggalkan Balasan