Dituding Ngintip, Oknum Guru ini Pukul Siswa Hingga Trauma

Mediasi orang tua korban, dengan oknum guru di SDN 40 Donggala Kota Gorontalo.(f/Abink)

RadarGorontalo.com – Menghukum anak didik yang bersalah, tidak harus bersifat fisik apalagi hingga membuat sang anak trauma. Inilah yang terjadi di SDN 40 Donggala Kota Gorontalo, oknum guru perempuan tega memukuli seorang siswa yang masih duduk di kelas satu, karena dituding mengintip di kamar kecil. Padahal menurut pengakuan korban, dirinya sedang mencari teman-temannya yang bersembunyi, karena ikut bermain petak umpet. Kasus ini akhirnya berakhir damai, kendati sang bocah harus mengalami trauma hingga takut masuk sekolah selama tiga pekan.

Kasus ini sempat menjadi perbincangan masyarakat, gara-gara dipukuli si oknum Guru, korban siswa yang masih kelas satu SD itu, menjadi trauma hingga enggan masuk sekolah. Tak cuma itu, korban mengeluhkan sakit di sekujur tubuh, diduga akibat pukulan oknum guru perempuan. Orang tua yang kesal, sempat mengadukan ulah si oknum guru itu ke sekolah hingga ke instansi terkait lainnya, sayang tidak mendapat respon.

Hingga kemudian kasus ini sampai ke telinga Fikram Salilama Aleg Deprov Gorontalo. Dirinya langsung merespon dengan turun langsung mengecek kebenaran itu lansung dari orang tua korban. Dan kemudian memediasi antara orang tua korban dengan pihak sekolah termasuk si oknum guru.

Dari penjelasan Kepala Sekolah SDN 40 Donggala Sumanto Ibrahim, kejadian itu bermula saat oknum guru tengah berada di kamar kecil, tiba-tiba seperti ada orang yang membuka pintu kamar kecil. si Oknum guru itu mendapati korban berada di luar, hingga kemudian menuding korban mengintip. Dalam keadaan marah, oknum guru memukuli bocah kelas satu SD itu sebanyak tiga kali. “korban ketahuan mengintip gurunya yang sedang ada di kamar kecil,” ucap Sumanto, coba menjelaskan duduk persoalan.

Tapi itu kemudian disanggah Salma ibu korban. Menurutnya, hal mustahil kalau anaknya mau mengintip orang apalagi itu guru. “Tidak mungkin anak saya yang masih duduk di bangku kelas satu, sudah melakukan hal negatif yang logikanya, atau kasarnya, dilakukan oleh orang remaja atau dewasa. Dari pengakuan anak saya, awalnya dirinya hanya bermain dengan teman-temannya, permainan sembunyi-sembunyi. Saat itu, anak saya mengira temannya sembunyi di kamar kecil, saat dibuka rupanya gurunya sendiri yang ada di dalam kamar kecil itu. Artinya, kesalahan yang dilakukan anak saya, bukanlah sebuah unsur kesengajaan, tapi karna dia tidak tahu. Ingat, cermin anak itu adalah orang tuanya, dan saya tak pernah mengjarkan anak saya, hal-hal yang kotor,” sergah Salma, yang terlihat marah.

Kendati demikian, kasus itu tidak sampai ke meja penegak hukum. Berkat kesigapan Aleg Deprov Fikram Salilama, hal ini bisa berakhir damai. Kendati demikian, Fikram berpesan agar kasus-kasus kekerasan dalam dunia pendidikan jangan lagi terjadi, baik itu yang menimpa siswa maupun guru.

“Saya bersyukur persoalan ini sudah bisa kami selesaikan, dengan memediasi masing-masing pihak. Dan mereka sudah saling meminta maaf, satu dan lainnya. Diluar dari status saya sebagai wakil rakyat, sebagai masyarakat hal ini harusnya jauh dari sebelumnya sudah selesai ditingkat sekolah. Tapi itu tak terjadi demikian, dan saya berharap masalah seperti ini tak terjadi lagi,” terang Fikram. (rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.