Dipinang 7 Parpol

Thariq Modanggu

RadarGorontalo.com – Keberadaan Thariq Modanggu semakin mahal. Sebab tokoh Gorontalo Utara sebelah barat ini menjadi orang kedua dipemerintahan Gerbang Emas, setelah ia menang dalam pertarungan Pilkada 2018-2023 bersama Indra Yasin. Dengan keberadaan itu, maka bisa jadi tokoh ini akan menjadi rebutan partai partai yang ada, khususnya 7 partai pengusung minus PAN yang didalamnya sudah ada Bupati Indra Yasin. Ke- 7 partai itu yakni, PDIP-Gerindra-PPP- Nasdem-PKS-PKB-Perindo- dipastikan akan berebut simpati sang deklarator Gorontalo Utara.

Thariq sendiri memang belum dimiliki oleh partai partai manapun di Gorontalo Utara. Sebab keberadaanya kemarin yang masih berstatus PNS juga menjadi kendala dirinya untuk menjadi kader partai hingga akhirnya gema pertarungan Pilkada Gorut akhirnya ditabuh. Memang dahulunya tokoh ini disiasati PPP untuk ditarik menjadi kadernya, namun karena status PSN itulah yang menjadi hambatan dirinya untuk masuk sebagai kader berlambang Kabah tersebut. Dikampanye kemarin pula, Thariq disebut sebut akan merapat ke PDIP. Namun boro boro itu diralat oleh kader PDIP Provinsi Kris Wartabone, ” Thariq belum menjadi kader kami di PDIP, karena memang dalam status kepartaian, kader adalah yang sudah mengantongi KTA (Kartu Tanda Anggota) partai,” tukas Kris waktu itu.

Untuk hal ini, memang Thariq pernah berujar, dirinya memang belum masuk partai apapun. ” Saya masih memilih masih milik semua partai,” tukasnya menjelaskan. Seakan menjelaskan semua rumor yang berkembang, langkah Thariq Modanggu merupakan langkah yang cukup balance dan cukup bijaksana. Memilih belum menentukan partai mana yang akan dia labuhi, sikap itu untuk menjaga netralitas dirinya diantara 7 parpol yang mengantarkannya berjuang hingga ke kursi Wakil Bupati saat ini. Namun demikian, pastinya untuk memuluskan langkah partai politik yang ada, dengan mampu menjadi jawara dalam Pilkada tahun ini, pastinya mereka akan membidik dan mencari simpati seorang Thariq Modanggu. Kita tunggu saja, partai mana yang akan beliau pilih, apakah tetap memilih netral hingga periode 5 tahun ini berakhir, atau mulai berpikir panjang dengan akan memilih salah satu partai yang ada. Sebab pasca 5 tahun ini, beliaulah pelanjut tongkat estafet kepemimpinan IQRA 5 tahun setelahnya, dan partai politik merupakan satu-satunya kenderaan untuk memuluskan langkah-langkah politiknya. (RG.53)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *