Di Limboto, Masjid Dibangung Dekat Masjid, Simak…

Keberadaan masjid Nurul Falah (samping kiri) yang tengah direnovasi. Namun disampingnya (kanan) juga dibangun masjid baru

RadarGorontalo.com – Pembangunan masjid baru di belakang Masjid Nurul Falah Kelurahan Hutuo Kecamatan Limboto telah menimbulkan polemik diantara jamaah. Sebagian besar jamaah mengaku kecewa atas permasalahan yang terjadi. Bahkan puluhan jamaah kurang lebih berjumlah 68 orang menolak adanya pembangunan.

Syarifin Tuhala salah seorang jamaah setempat mengaku pada prinsipnya, selaku jamaah dirinya merasa kecewa, karena harapanya masjid sebagai wadah pemersatu umat, tapi yang terjadi justru sebagai pemecah belah. “Satu penyesalan luar biasa, kenapa ada masjid di depan, kemudian ada pengurus salah satu organisasi membeli tanah di samping masjid dan mendirikan masjid,” tutur Syarifin.

Terkait polemik ini, Syarifin mengaku sempat dilakukan beberapa kali mediasi. Dimana, sampai tahun 2015 lalu dimediasi langsung oleh orang nomor satu di Kabupaten Gorontalo, yakni Bupati Nelson Pomalingo. Adapun kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan tersebut, bahwa kedua masjid digabungkan. Di tahun yang sama juga lanjut dikatakan Syarifin, keluar fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang pembangunan masjid di samping masjid, karena jaraknya yang terlalu dekat kurang lebih 10 meter dan dikhawatirkan saat sholat, maka akan bersahut-sahutan, yang selanjutnya tidak sesuai dengan peraturan kementerian dalam negeri dan kementerian agama. “Kenapa demikian, karena kementerian dalam negeri dan kementerian agama itu ada perjanjian kerjasama terkait pembangunan rumah ibadah. Nah, ini yang tidak diindahkan oleh oknum-oknum pengurus organisasi. Yang menjadi kekhawatiran kami, jika kedua masjid ini jadi, maka umat itu akan terpisah dan ini tentu satu hal yang merugikan umat Islam, karena pasti orang-orang luar disana akan mencibir,” papar Syarifin.

Sementara itu Ardince Tone, salah seorang jamaah lainnya yang juga sesepuh di wilayah tersebut mengatakan bahwasanya musyawarah yang sempat berlangsung di 2015 lalu diantara para jamaah tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Dimana, keputusannya Masjid Nurul Falah akan direnovasi. Namun, anehnya beberapa bulan sesudahnya justru ada pembangunan masjid baru disamping masjid yang ada. “Ini berarti penghianatan musyawarah yang akibatnya perpecahan ditingkat kekeluargaan,” kata Ardince.

Lanjut Ardince, tanah yang kini dibangun masjid baru adalah tanah yang dibeli oleh jamaah Masjid Nurul Falah untuk sholat idul fitri dan idul adha. “Mereka tidak berpikir dengan membangun masjid baru yang berdekatan ini akan memecahbelahkan kekeluargaan dan umat kita,” ujar Ardince. Bahkan kata Ardince sudah tiga kali islah, tapi tidak berhasil. Islah pertama di tingkat kecamatan tidak berhasil, demikian juga islah di tingkat kelurahan. Begitu juga islah ketiga di rumah dinas bupati tidak berhasil. “Saat islah di rumah dinas bupati, mereka sengaja sudah buat berita acara dan itu tidak kami tandatangangi, karena mereka mengatakan masjid inilah yang menimbulkan pertikaian, padahal, justru mereka yang selalu menimbulkan pertikaian,” imbuhnya.

Ada kabar yang menyebutkan tanah wakaf awal pembangunan masjid Nurul Falah sejak 1951diserahkan ke organisasi Muhammadiyah, dibantah keras Ardince. Katanya, itu hanya oknum yang mengatasnamakan organisasi. “Saya Aisyiyah sudah lama, salah satu organisasi Muhammadiyah bahwa tidak benar tanah yang dibangun masjid Nurul Falah telah diserahkan ke organisasi Muhammadiyah, jangan memutarbalikkan fakta, ini yang mereka tidak pikirkan kekecewaan dari jamaah, sehingganya saya sangat terganggu dengan adanya pembangunan masjid baru ini,” tukasnya.

“Kasian masjid ini dibangun diatas tanah wakaf dari seorang bapak, kakek kemudian mereka mau menghancurkan, apakah ini tidak berefek pada orang yang mewakafkan. Coba baca dalam Al-Qur’ an, orang yang merubah wasiat adalah dosa bagi mereka,” katanya lagi. Lebib lanjut atas nama jamaah Ardince berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan oleh pemerintah daerah, karena kalau dibiarkan dikhawatirkan tidak hanya menimbulkan perpecahan, tapi juga pertikaian diantara jamaah. (rg-56)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.