Deklarasi Kampanye Damai Ricuh, Ceritanya Begini…

Kericuhan yang terjadi diatas panggung penandatanganan deklarasi kampanye berintegritas dan damai, Jumat (28/10)
Kericuhan yang terjadi diatas panggung penandatanganan deklarasi kampanye berintegritas dan damai, Jumat (28/10)

RadarGorontalo.com – Sejak awal, memang sudah bisa diprediksi, Pilgub Gorontalo bakal diwarnai ketegangan. Itu terlihat jelas, jelang pendaftaran bahkan pasca penetapan pasangan calon. Bahkan, Ketua Bawaslu pun tak yakin, kalau kampanye nanti bakal berlangsung damai. Nah, Jumat (28/10), ketegangan bahkan nyaris ricuh, terjadi usai deklarasi kampanye damai. Salah seorang calon bersitegang dengan pendukung paslon lain.

Kericuhan kemarin, nyaris memicu bentrok antara sesama pendukung masing-masing pasangan calon. Untung polisi sigap, dan langsung melakukan pengamanan sehingga bentrok terelakkan. Ceritanya begini, dari pantauan Radar Gorontalo, awalnya deklarasi kampanye damai yang digelar KPU Provinsi Gorontalo itu, berjalan lancar. Memang, seluruh pasangan calon membawa pendukung masing-masing. Per pasangan calon hanya boleh bawa 75 orang pendukung.

Singkat cerita, saat momen penandatanganan deklarasi kampanye berintegritas dan damai, suasana ruangan riuh dengan teriakan masing-masing pendukung. Hanya saja, salah satu pendukung NKRI, kebetulan berada di atas panggung. Teriakannya, tanpa disadari terdengar lebih keras karena posisinya kala itu, dekat dengan microphone. Mendengar itu, calon wakil gubernur Adhan Dambea pun berjalan ke arah pendukung NKRI itu, dan melayangkan teguran, meminta salah seorang pendukung NKRI jangan teriak dekat microphone. Oleh si pendukung, teguran itu dijawab. Rupanya jawaban si pendukung, menyulut emosi Adhan Dambea. Gesekan pun terjadi.. sesama pendukung pasangan calon, mulai adu mulut dan saling dorong. Untung saja, polisi dengan sigap, langsung melerai dan memisahkan kedua kubu, dan masing-masing dikawal hingga keluar gedung. Suasana pun kembali terkendali.

Sementara itu, Ketua Badan Pengas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Gorontalo Haslina Said menyayangkan insiden tersebut. Dijelaskannya, dihadapan publik deklarasi kampanye berintegritas dan damai tercederai, dan hal itu sangat mengecewakan. Haslina tidak yakin, jika pelaksanaan kampanye dilapangan nanti, masih akan berjalan lancar dan damai seperti apa yang diharapkan. “Deklarasi damai di Gorontalo sudah tercederai, sehingga kami tidak yakin jika kampanye akan berlangsung damai,” ujarnya sembari menambahkan, deklarasi kampanye damai ini, hanya sebatas kegiatan serimonial, dan tidak bisa direalisasikan. Kedepan kata Haslina, pelaksanaan deklarasi ataupun debat kandidat harus dibatasi masa yang akan hadir, agar tidak terjadi insiden seperti ini.

Ditempat terpisah, Ketua KPU Provinsi Gorontalo Mohamad M. Tuli, mengatakan kericuhan pada deklarasi damai, terjadi diluar duggaan. Karena pada saat penandatanganan deklarasi damai, seharusnya hanya pasangan calon yang diatas panggung. Meskipun deklarasi damai ini tercoreng, bukan berarti pelaksanaan kampanye nanti, akan terjadi insiden seperti ini. Karena menurut Mohamad Tuli, jadwal dan lokasi kampanye masing-masing pasangan calon sudah diatur dan tidak mungkin dalam sehari jadwal kampanye akan bertabrakan lokasi. “Saya yakin dan percaya, jika pelaksanaan kampanye dilapangan nanti tidak akan terjadi hal seperti ini. Mengingat jadwal dan lokasi kampanye setiap pasangan calon sudah diatur sedemikian rupa,” tegasnya.

Sehingga kedepan, pelaksanaan deklarasi kampanye damai akan diperketat bahkan akan dibatasi orang yang akan masuk. Sementara itu, untuk mengantisipasi kejadian yang sama akan terjadi, KPU meminta kepada Kepolisian, untuk lebih memperketat lagi pengamanan pada pelaksanaan debat kandidat yang akan dilaksanakan Desember mendatang. (rg-60)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *