Dapat Hidayah Setelah Mimpi Kiamat

bersama Kahar Monoarfa (kanan) alias Akule, saat foto di depan Masjid.

RadarGorontalo.com – 13 tahun silam, sosok satu ini sangat disegani kawan maupun lawan. Sebutan pembunuh berdarah dingin, melekat pada pria berperawakan tegap dengan tubuh penuh tato itu. Nama aslinya Kahar Monoarfa (45), tapi di kalangan jawara (preman,red), Kahar lebih akrab disapa Hakule. Karakternya yang pendiam, menambah kesan sangar. Tapi siapa sangka, Allah kemudian menyentuh hatinya. Kini Hakule yang terkenal itu, berubah 180 derajat, dulu jawara yang ditakuti, kini menjadi seorang imam masjid yang murah senyum.

Suryadin Ahmad, Pohuwato.

Jumat (9/6) pekan, Saya sholat Subuh di salah satu Masjid yang ada di kompleks Terminal Marisa. Kebetulan saat itu, imamnya Kahar alias Hakule. Usai sholat, Saya coba sedikit bercerita dengan sang mantan jawara ini. Awalnya, beliau sedikit malu menceritakan masa kelamnya, tapi setelah dibujuk beliau akhirnya mau juga. “Lebe bagus bacirita di rumah sambil minum kopi, hehe,” canda Kahar. Dan kami berdua pun, menuju rumah beliau di Desa Marisa Utara tak jauh dari Masjid.

Sambil menunggu fajar, Ia pun mulai berkisah tentang masa lalunya. Duluu skalii, sekitar tahun 90 hingga 2000 an, adalah masa-masa jahiliahnya. Rata-rata kawannya adalah para preman yang sudah hilir mudik dalam penjara. Apalagi kala itu, Kahar mengelola sebuah tempat hiburan malam. Keuntungan dari tempat hiburan, ditambah hasil tambang emas di gunung pani, membuah Kahar bergelimang harta. Tidak sedikit, preman-preman kecil yang jadi anak buahnya. Bahkan, ada dua orang rekannya kala itu adalah preman dari Jakarta yang lari ke Marisa, karena terlibat kasus pembunuhan.

Perkelahian di tempat hiburannya sudah menjadi hal biasa. Bahkan, Kahar sendiri harus berulang kali berurusan dengan polisi hingga keluar masuk penjara. Ditambang gunung Pani, Kahar bukan lagi penambang kecil, tapi sudah masuk skala bos besar. Dan sudah menjadi hukum di tambang rakyat seperti itu, siapa kuat dialah yang berkuasa. Saat berkelahi, Kahar tidak segan-segan melukai lawannya dengan pisau. Mati pun sudah menjadi resiko yang dihadapinya sehari-hari. Apalagi banyak yang ingin menguasai lokasi tambang (lubang) miliknya. Alhasil, dirinya pun pernah terlibat perkelahian dengan sekelompok preman bayaran, namun berkat kemampuannya, Kahar berhasil memenangkan pertarungan.

Punya uang plus anak buah yang banyak, sempat membuat kahar berpikir untuk jadi kepala preman. Kendati bergelimang harta dan ketenaran, justru membuat hidup Kahar tidak tenang. Masalah demi masalah datang silih berganti. “hati kecil saya berkata, Saya harus hentikan semua kebiasaan buruk ini,” katanya. Tapi sayang, Kahar tak tahu harus mulai dari mana. Sempat terbesit untuk pindah ke kampung orang, namun tak direstui sang istri. Alhasil, Kahar terus melanjutkan kebiasaan buruknya itu.

HIDAYAH MULAI MENYAPA 

Suatu ketika, usai pesta miras dengan kawan-kawannya, Kahar pun berjalan pulang ke rumah. Dengan kondisi mabuk berat, Kahar akhirnya jatuh tertidur di pinggir sungai. ‘Sepertinya Allah mulai menyapa hambanya’. Dalam kondisi tertidur, Kahar bermimpi terjadi kiamat. Dalam mimpi itu, Ia berlari menyelamatkan anak istrinya, tapi usahanya gagal. Dengan kondisi ketakutan, Kahar terbangun dan bergegas pulang rumah. Mimpi itu diceritakan kepada sang istri. Kahar tak mengerti arti mimpi itu, dan terus terjebak dalam kehidupan jahiliyah.

Sekitar tahun 2004, saat asyik pesta miras bersama kawan-kawannya, Kahar didatangi sekelompok pria berjubah. Rupanya mereka adalah jamaah tabligh asal Bitung Sulawesi Utara, yang ingin berdakwah.”Saya ingat, dorang itu ada 10 orang dari Bitung. Ada 4 orang bekas preman juga, dan ada yang muallaf,” kenangnya. Entah kenapa, kawan-kawannya langsung lari, tinggallah Kahar sendirian menghadapi kelompok ini. Dalam kondisi setengah sadar, Kahar sepertinya tak kuasa menolak nasehat hingga ajakan tobat dari para pria ini. Kahar merasa malu saat diajak ke mesjid. Maklum, kendati beragama Islam tapi Masjid adalah tempat paling asing baginya. malam itupun menjadi titik balik bagi si Jawara.

Dirinya pun diajak ikut bersama rombongan dakwah. Meski berat, sang istri akhirnya mengizinkan. Subuh besoknya, ada pemandangan tak lazim. Putri sulungnya yang masih kelas 3 SD, masih subuh sudah bangun. Rupanya sang anak tahu, kalau Ayahnya akan ikut dengan rombongan dakwah, tapi tak punya uang untuk biaya perjalanan hingga uang nafkah untuk ditinggalkan selama dirinya khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah). Tak pikir panjang, putrinya tak ragu memberikan uang tabungannya buat Kahar. Dengan mata berkaca-kaca, terbesit dalam pikiran Kahar, inilah jalan dari Allah yang ditunjukkan kepadanya.

Sekembalinya dari berdakwah, banyak yang tidak percaya dengan perubahan ini. Ada yang mendukung, ada pula yang mencibir. Bahkan, sempat ada yang menagtakan kalau Kahar ikut aliran teroris. Tapi dirinya tak patah semangat. Kahar kembali keluar berdakwah, kali ini lamanya 40 hari. Setelah usahanya ditutup, dirinya tak punya uang. Tapi lagi-lagi, ada saja pertolongan Allah. Pria yang tadinya terbata-bata membaca Al-Fatihah itu, terus menimba ilmu agama.

Perlahan orang tak lagi mencibirnya. Kendati tak lagi bergelimang harta, Kahar mengaku hidupnya yang sekarang, jauh lebih tenang. Temannya sesama preman hingga polisi yang menangkapnya pun dinasehati untuk kembali ke jalan Allah. Doanya cuma satu, yakni diistiqomahkan terus berada di jalan Allah. Kelima anaknya, terus dibekali dengan ilmu agama, dengan harapan mereka tidak mengikuti jejaknya dahulu. Kisah Kahar alias Akule ini, menjadi bukti Allah sayang dengan umatnya. Pria sekelas Kahar yang dulunya akrab dengan maksiat, masih diberikan kesempatan untuk kembali ke Jalan-NYA. (**/ syakir/rg)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *