Daerah Rugi, Pajak Pertalite Hanya Rp 10 M?

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite, khususnya yang dibutuhkan masyarakat di provinsi Gorontalo, kian meningkat dari hari ke hari. Dimana, tidak saja kalangan menengah ke atas yang membutuhkannya, namun juga merambah antusias masyarakat dari golongan bawah, mulai banyak menggunakan jenis BBM ini.

Namun ironisnya, ternyata, pendapatan pajak dari BBM jenis Pertalite yang diraup oleh pemerintah provinsi (Pemprov) Gorontalo, dinilai oleh jajaran Badan Anggaran (Banggar) Deprov Gorontalo, tidak sebanding dengan penggunaannya di lapangan.

Dimana, laporan yang terungkap dari jajaran Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemprov Gorontalo, saat melakoni rapat kerja lanjutan pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Platfon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk APBD 2018, dengan jajaran Banggar Deprov, kemarin, pajak pertalite hanya didapat sebesar Rp 10 Miliar per tahun.

Tak heran, mendapat informasi ini, sejumlah anggota Banggar Deprov, langsung mencocokan nilai pajak Pertalite yang seharusnya didapat oleh Pemprov Gorontalo, dengan melakukan kalkulasi atau perhitungan secara manual, yang turut didasarkan pada aturan dan ketentuan berlaku.

Seperti dengan mengakomodir nilai Pajak Bahan Bakar Kenderaan Bermotor (PBBKB) sebesar 7,5 persen dari Peraturan Daerah (Perda) yang telah ada. Ternyata, PKB dari pajak Pertalite yang seharusnya didapatkan oleh Pemprov, tidak hanya Rp 10 M. Namun lebih dari itu, bahkan mencapai lebih dari Rp 50 M per tahun. Dengan menggunakan hitungan standar, bahwa ada lebih dari 20 SPBU yang tersebar dan beroperasi di 6 kabupaten/kota Gorontalo. Dimana, pengakuan salah satu petugas di SPBU Kota Gorontalo, kebutuhaan BBM jenis Pertalite, mencapai hingga 16 ribu liter per hari. “16 ribu liter per hari, pak! Itu kadang habis, kadang pula masih ada yang tersisa,” ungkap petugas ini, kemarin.

Olehnya, sejumlah anggota Banggar Deprov, mengambil standar, rata-rata hitungannya 8 ribu liter saja per SPBU per hari. “Jika dikalikan dengan 7,5 persen (pajak sesuai Perda PBBKB), dikali 365 hari, lalu dikali untuk 19 SPBU saja, mendapatkan hasil Rp 63 Miliar. Wah, luar biasa banyaknya,” ucap spontan anggota Banggar Deprov, AW Talib, kemarin.

Olehnya, anggota Banggar Deprov lainnya, Firman Ferdinand Soenge, mencurigai, ada yang tidak beres dalam perhitungan PBBKB dari BBM jenis Pertalite ini. “Karena, itu baru hitungan standar atau rata-rata untuk masing-masing SPBU dalam setiap harinya, menghabiskan 8 ribu liter BBM jenis Pertalite. Nah, bagaimana dengan SPBU yang lebih dari 8 ribu liter dijual ke masyarakat, setiap harinya. Olehnya, saya tidak percaya, jika pajak BBM dari jenis Pertalite ini, hanya menghasilkan Rp 10 M per tahun saja, pajaknya untuk daerah.” ungkap Firman, kemarin. “Itu baru dari Pertalite, bagaimana dengan BBM dari jenis lain, Premium, Pertamax, Solar, dan Solar Subsidi?” imbuh dia lagi.

Untuk itu, terkait temuan ini, kata Firman lagi, pihaknya mengharapkan agar rekonsiliasi atau hitungan pajak Pemprov dari pajak BBM seperti Pertalite, agar tidak lagi dilakukan per 3 bulan sekali. “Namun, kami mengharapkan, rekonsiliasi hitungan pajak dari BBM seperti Pertalite ini, untuk dilakukan per Minggu sekali. Mengapa? Karena, jujur saja, PBBKB, PKB (Pajak Kenderaan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kenderaan Bermotor), adalah unsur-unsur pajak yang kami (pemerintah) harapkan transparan pemberlakuannya di provinsi Gorontalo,” jelas Firman. “Olehnya, terkait temuan ini, kami juga akan merekomendasi ke Pemprov, untuk membentuk tim khusus, terkait penerimaan pajak dari sektor BBM ini. Karena, disisi lain, hasil dari pajak BBM ini, peruntukannya bukan untuk kas Pemprov semata. Namun sesuai aturan, akan turut dilakukan juga, bagi hasil dengan 6 pemerintah kabupaten/kota se provinsi Gorontalo. Yang kami harapkan, pemanfaatannya, dapat digunakan untuk peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat di masing-masing kabupaten/kota itu sendiri,” pungkas Firman Soenge. (rg-28)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.