Cerita Relawan Tagana Evakuasi Korban Banjir, Berbuka Dengan Segelas Air, Sahur Baru Makan Nasi

Anggota Tagana ketika melakukan evakuasi korban banjir di kecamatan Bulango Utara (tagana/RG)

RadarGorontalo.com – Bagi sebagian orang, belum tentu mampu melakukan apa yang dilakukan para relawan Taruna siaga Bencana (TAGANA). Dalan kondisi perut lapar karena sedang berpuasa, mereka rela berbasah-basahan bahkan bertaruh nyawa, guna menyelamatkan warga yang terkepung banjir. Tak jarang, karena sibuk mengevakuasi, para relawan ini bertahan dengan kondisi perut yang hanya beralaskan air putih.

Rizki Ibrahim, Radar Gorontalo.

Beberapa hari terakhir, sejumah wilayah di Provinsi Gorontalo dilanda hujan lebat diikuti angin kencang. Parahnya, hujan terjadi hampir seharian, terhitung sejak Jumat (2/6). Beberapa wilayah pun mulai terendam air, mulai dari Pohuwato, Boalemo, Kabupaten Gorontalo hingga Bone Bolango. Paling parah di Kota Gorontalo. Tidak tangung-tanggung, ancaman luapan air lebih besar lagi mengintai sejumlah titik pemukiman warga.

Sebagai salah satu organisasi relawan, Tagana pun mulai bersiap turun evakuasi. Masalahnya, sebagian besar relawan yang beragama Islam, tengah menjalankan ibadah puasa. Sedangkan untuk melakukan evakuasi, mereka butuh tenaga lebih. Karena termasuk anggota Tagana, Saya pun harus ikut turun. Memang tidak ada paksaan, tapi karena ini panggilan jiwa, maka tanpa disuruh pun para anggota Tagana yang rata-rata sudah pernah mengenyam pelatihan, lagsung turun melakukan pemantauan dan bersiap untuk evakuasi.

Dikala waktu senggang, saya sempat berbincang dengan Upick salah seorang anggota Tagana di Bulango Utara, yang menjadi kawasan paling rawan banjir. Upick mengaku, bersama rekan-rekannya, beberapa hari terakhir mereka sibuk memantau kondisi sungai Bolango. Saat debit air mulai tinggi, warga mulai panik dan berhamburan ke luar rumah. Tagana coba menenangkan warga, sembari mebantu mereka menyelamatkan barang-barang berharga.

Relawan Tagana membagikan makanan sahur kepada sebagian warga yang bertahan di lokasi bencana.

Benar saja, dalam beberapa jam debit air terus meninggi, dan mulai masuk ke rumah-rumah warga. Arus yang deras cukup membahayakan, warga yang terlihat aktif menyelamatkan barang ketimbang menyelamatkan diri. Dalam kondisi ini, Tagana harus benar-benar waspada. Saat sibuk mengevakuasi warga, debit air terus naik ditambah arusnya sangat kuat. Bahkan, salah seorang rekan Upik sempat terbawa arus. ” kalau tidak ada pohon itu paling saya so jadi korban.” ungkap tato rekan upik yang ikut menimpali.

Menariknya, dalam kondisi kebasahan dan lelah karena harus bolak-balik evakuasi warga, para anggota Tagana masih bertahan puasa. Bahkan, saat waktu berbuka tiba, satu gelas air mineral jadi menu pembuka utama. Tak ada tambahan lain, cukup air satu gelas. Dan dengan kondisi seperti itu, anggota Tagana harus bertahan hingga waktu sahur tiba. “Saya ini, cuma babuka dengan air satu glas. Nanti Sahur baru rasa nasi,” ungkap salah seorang anggota Tagana, sambil tersenyum. Sebaliknya, salah seorang rekannya mengaku hanya Sahur dengan air satu gelas, dan langsung turun evakuasi, dan kembali berbuka dengan air satu gelas juga. “Alhamdulillah bisa tahan. Hitung-hitung, ini modal kami di akhirat kelak,” timpal keduanya. Masih dalam suasana banjir, Sabtu (03/06) dini hari anggota Tagana, bersama sebagian warga terpaksa sahur di posko bencana.

Apel siaga sebelum mendistribusikan makanan berbuka kepada korban bencana sekaligus arahan dari kepala Dinas Sosial Kab Bone Bolango. (Darwin/RG)

“Bagi kami, bencana alam adalah lonceng tanda untuk anggota Tagana berkumpul di lokasi bencana. Kami datang karena panggilan kemanusiaan,” tandas Darwin, sekretaris Tagana Kabupaten Bone Bolango. Dan anggota Tagana, hanya bisa pulang, setelah kondisi dinyatakan benar-benar aman. Banyak yang tidak tahu, kalau Tagana adalah relawan. Tak jarang, masyarakat awam menjadikan rekan-rekan Tagana, objek sasaran kemarahan hanya gara-gara tidak kebagian makanan atau bantuan, dan bagi kami Tagana itu hal biasa. Tagana tak butuh ucapan terima kasih, melihat korban selamat saja, itu sudah lebih dari cukup. (**/RG)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.