Cerita Etnis Tiong Hoa Tentang Ramadhan, Kebhinekaan Gorontalo Number One

Edy Santika

RadarGorontalo.com – Soal Kebhinekaan, Gorontalo Patut Diacungi jempol. Pernyataan itu disampaikan Edy Santika di forum keluarga Tionghoa yang berlangsung di Jakarta belum lama ini. Salah satu taipan Gorontalo ini punya alasan kuat, mengapa dia sangat memuji Gorontalo.

Jumlah umat Muslim di Gorontalo 90 persen lebih, tetapi hubungan dengan umat lainnya begitu luar biasa baiknya. “Tak ada perbedaan diantara kami sebagai orang Gorontalo,” katanya. Dia kemudian mencontohkan, karena kedekatan yang sudah terbangun sejak kanak – kanak, maka semua orang Gorontalo di perantauan, termasuk anak – anak kami, selalu minta pulang pada bulan Ramadhan. Mereka rindu suasana bulan Ramadhan terutama Malam Tumbilotohe dan Idul Fitri. “Heran, anak saya yang kuliah di luar daerah, sudah ditelpon teman – temannya di SMA dulu, mereka mau bikin buka puasa bersama, makanya dia akan pulang sehari atau dua hari ini,” tutur Edi.

Menurut Edy lagi, semua orang keturunan Tionghoa di Gorontalo, sekolah di Gorontalo sampai lulus SMA dan ini berlaku turun temurun, termasuk dirinya. Ternyata kata dia lagi, pertemanan semasa SMA sangat penting, karena dari situlah mekarnya rasa persaudaraan. Bila terjadi perkelahian dan orang tua masing – masing tahu bahwa itu anak – anak mereka, persoalan langsung selesai. Kenapa, karena persahabatan waktu SMA.

Mungkin hanya di Gorontalo ada reuni SMA 50 tahun. Keakraban waktu SMA memang sangat kuat. Jadi kata Edy, sangat baik kalau anak – anak tetap sekolah SMA didaerah sendiri, tetapi kalau sekolah di Jawa, maka mereka tak punya teman di daerah sendiri. Beda di Gorontalo, semua anak – anak kami sekolah dan bergaul luas, jadi mereka punya banyak teman. “Dulu torang pulang sekolah nae bendi rame – rame,” katanya. (rg-51)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *