BI Bertekad Perangi Penyakit Inflasi

RadarGorontalo.com – Tepat tanggal 1 Juli 2016, Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) Cabang Gorontalo merayakan hari jadinya yang ke 63. Perayaan dilakukan di area Gedung BI dan dimulai sekitar pukul 15.00 WITA. “Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi kami, bukan hanya di BI Gorontalo, tapi diseluruh Indonesia,” kata Kepala Deputi Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) Cabang Gorontalo, Surono.

Di usia yang ke 63 ini, Surono bertekad bisa memerangi penyakit-penyakit inflasi. Khususnya Barito (Bawang Merah, Rica, dan Tomat). Menurut dia, ketiga komponen ini menjadi penyebab inflasi hampir setiap bulan. “Sepanjang tahun itu, Barito menjadi penyakitnya Inflasi di Gorontalo,” ungkapnya.

Maka caranya, kata Surono, dengan memperluas lahan pertanian ketiga komponen ini. “Lahan pertanian kita luas, hanya saja bagaimana cara kita memberi penekanan dalam meningkatkan performance kinerja petani cabe, bawang merah, dan tomat. Kalau sudah demikian, saya rasa mudah mengontrol inflasi barito,” terangnya.

“Saya pernah beli disupermarket, tomat itu kecil-kecil harganya 27.000. Kalo sudah 1/4 bisa 100 lebih kali sekilo. Kemudian cabe, ini orang Gorontalo sukanya pedas-pedas. Cabe juga menjadi momok penyebab inflasi di Gorontalo. Ini kenapa, walaupun stoknya ada, tetapi kadang dijual ke Manado atau ke daerah lain. Mungkin karena sama-sama suka pedas kali ya,” tambah Surono.

Sebenarnya untuk pertumbuhan ekonomi, kata Surono, Gorontalo terbilang sangat baik, yakni diatas 6 persen. Bahkan sangat tinggi diatas level nasional. Namun masalahnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini belum bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Gorontalo. “Iya, sayangnya pertumbuhan ekonomi kita belum bisa dirasakan secara menyeluruh,” ujarnya.

Kemudian mengenai persoalan di bidang pertanian. Seperti diketahui, sektor terbesar pertumbuhan ekonomi Gorontalo itu ada pada bidang pertanian. Setahun bisa di atas 35 persen. Namun, ketika sektor pertanian mengalami gangguan, misalnya ada kasus elnino atau la-nina, cepat sekali anjlok. “Saya kira sudah banyak upaya-upaya pemerintah, namun demikian harus tetap dicermati, termasuk pengawasan terhadap pemberian bantuan-bantuan,” kata Surono lagi.

Sejauh ini kerja sama antara BI dengan aparat Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, sangat-sangat baik. Seperti kerjasama dalam cluster Karawo dan sapi potong. Namun untuk persoalan ekonomi, Surono menyarankan kepada Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, untuk kedepannya perlu dilakukan re-orientasi prioritas. “Artinya kita harus mengakui bahwa kemiskinan kita masih tinggi, diatas 18 persen termasuk pengangguran kita masih belum bisa secara total ditangani,” jelasnya. “Saya berharap, kita semua bisa bersinergi lebih bagus lagi. Saya yakin Gorontalo kedepan akan menjadi sebuah kota yang memiliki pertumbuhan yang sangat tinggi,” tutupnya. (rg-63)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *