Ayoo… Selamatkan Sumber Air, 5000 Bibit Pohon Jaga Mata Air Telaga

 

Bupati Nelson didampingi Kepala Balai Sungai sedih melihat tanaman di Telaga Puncak yang rusak akibat ulah manusia Kamis, (23/3).

RadarGorontalo.com – Dampak bencana alam akibat gundulnya hutan, bukan saja tanah longsor dan banjir. Tapi bencana kekeringan juga ikut mengintai, akibat berkurangnya daerah tangkapan air. Kamis (23/3), sebanyak 5000 bibit pohon ditanam di Telaga Puncak tepatnya di Desa Dulamayo Selatan.

Penanaman bibit pohon bagian dari rangkaian kegiatan peringatan hari air sedunia. Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo yang ikut menempuh perjalanan mendaki puncak Telaga sendiri, sempat mengaku heran saat melihat kawasan yang dulunya rimbun itu, kini mulai gundul akibat pembalakan liar. “Saya mengintruksikan kepada seluruh tim SKPD bahwa untuk Tahun ini satu Kecamatan satu mata air harus diselamatkan.

Jadi jangan menunggu lagi untuk penyelamatan lingkungan yang perlu kita perhatikan,” tegas Nelson spontan. “Jangan meninggalkan air mata pada anak cucu kita, tapi kita harus meninggalkan mata air. Insya Allah paling lambat pada bulan Mei saya akan mengajak seluruh perangkat SKPD untuk melakukan rapat di puncak pegunungan ini,” timpalnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Kepala BWS Sulawesi II, Jeanne M. Wagey. “Di kawasan ini terdapat sumber-sumber mata air, ada agrometrim sebagai infrastruktur konservasi air dan tanaman. Ini harus dijaga dan dimanfaatkan”, kata Jeanne, yang menandai kegiatan penyelamatan sumber air itu, dengan penandatanganan komitmen bersama menjaga lingkungan dari ancaman berbagai faktor.

Sementara itu, duta Ully Sigar Rusady sebagai salah satu duta lingkungan hidup yang sempat diundang BWSS II mengatakan, apa yang disampaikan Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo bahwa kita jangan semangat cuma dihotel, akan tetapi semangat itu ditunjukan di lapangan dan semata-mata bukan hanya dalam rangka Hari Air Sedunia dilaksanakan setiap tahun akan tetapi itu dilaksanakan setiap hari. “Oleh karena itu dengan adanya 5000 bibit pohon yang akan ditanam, pesan saya adalah siram, rawat, jaga dan pantau,” tegas Wanita kelahiran Garut, Jawa Barat, 4 Januari 1952 saat didampingi suaminya. (rg-54)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *