Aksi Premanisme Guru ini Berakhir di Polres, Ini Pengakuan Siswanya

Paman bersama korban saat melapor di Polres Gorontalo

RadarGorontalo.com – Aksi premanisme di dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini aksi premanisme itu terjadi di sekolah Madrasah Ibthidaiyah Negeri (MIN), Hepuhulawa yang dilakukan oleh Feb, salah seorang Guru honorer yang menampar seorang siswa RB alias Angga.

Kejadian itu terjadi pada kegiatan pramuka Jumat-Sabtu. Dimana, Feb saat itu tengah mengatur barisan anak-anak yang menggunakan pakaian pramuka. Lantas, Feb menegur beberapa siswa yang sering berteriak.

Namun teguran Feb itu tak kunjung diindahkan oleh beberapa siswa. Dengan spontan, Feb langsung menampar Angga di pipi bagian kiri yang saat itu berada dibelakangnya.

Padahal menurut pengakuan Angga dan teman-temannya bahwa bukan dia yang berteriak, tapi oleh guru tersebut langsung memukul tanpa bertanya lebih dulu. Angga pun merasa kesakitan dan mengadukan hal itu kepada orang tuanya.

ak terima dengan kejadian itu, Paman korban yakni Yoyon Adam langsung mendatangi sekolah dan menanyakan insiden premanisme tersebut. Yoyon sangat menyayangkan adanya aksi penamparan terhadap ponakannya itu, karena ponakannya ini sementara dalam perawatan dokter THT.

“Dia sudah lama menahan sakit dibagian telinga dan minggu kemarin kami bawa ke dokter THT, mirisnya lagi, Ia ditampar tepat ditelinga kiri yang sering dikeluhkan sakit”, ujar Yoyon dengan nada kesal.

Menurut penuturan Feb, Ia tidak menampar tapi hanya mendorong pipi korban dengan tangan. Namun hal itu ditepis oleh korban yang saat itu dipertemukan diruang Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah MIN, Marci A. Karim mengakui tidak tahu menahu soal insiden itu dan memang disekolah itu tidak diperbolehkan lagi bagi guru untuk melakukan kontak fisik dengan siswa. Marci sendiri mengakui adanya kekhilafan dari guru honorer disekolah dan akan menyikapinya sesuai dengan aturan yang ada.

“Kita punya raport bagi guru, dan setiap kesalahan guru akan kita tuliskan diraport itu, kalau sudah lewat batas maka akan kita proses dan itu yang akan kita berlakukan bagi guru honorer yang menampar siswa kita ini”, ujar Kepsek Marci.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Komite MIN Hepuhulawa HM Polinggapo yang merasa prihatin dengan kejadian ini dan meminta pihak sekolah segera membicarakan ini dengan orang tua siswa, baik untuk perawatannya maupun yang lainnya.

Akan tetapi, paman korban yang dipercayakan oleh orang tua korban merasa tidak puas dengan pertemuan yang sudah dua kali dilakukan itu. Sehingga, mereka pun melaporkan hal ini ke Polres Gorontalo.

“Kami tidak puas dengan musyawarah tadi, karena anak kami ini ternyata sudah berulang kali diperlakukan kasar, sejak kelas 3 hingga kelas 6, anak kami mengaku kalau Ia sering dijewer ditelinga oleh guru yang sama, tak heran jika telinganya harus merasakan sakit sampai dengan hari ini”, ketus Yoyon. (Vi4n)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *