9 Bulan Menjaga Perbatasan, Para Kesatria Kembali

350 pesonil TNI AD Bataliyon 713 Satya Tama Gorontalo tiba di pelabuhan Gorontalo

RadarGorontalo.com – Masa sembilan bulan, bukanlah waktu yang singkat. Apalagi harus meninggalkan anak, istri dan keluarga. Para kesatria berbaju loreng itu, bertaruh nyawa demi menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia. Selasa (31/10), mereka pulang. Menumpang KRI Teluk Amboina, 350 personil TNI Angkatan Darat (AD) Bataliyon 713 Satya Tama, tiba di Pelabuhan Gorontalo, setelah hampir setahun menjaga tapal batas NKRI di ujung Kalimantan Utara.

Abink, Radar Gorontalo.

Kesibukan terlihat beberapa jam, sebelum kedatangan 350 pesonil TNI AD Bataliyon 713 Satya Tama tiba di Pelabuhan Gorontalo. Tak cuma panitia penyambutan, para istri anak dan orang tua dari para prajurit itu, terlihat mempersiapkan diri masing-masing. Bagi mereka ini adalah momen luar biasa. Maklum, 9 bulan bertugas menjaga perbatasan bukan perkara mudah, apalagi bagi keluarga yang ditinggal. Setiap hari, rasa cemas menghantui.

Sayup-sayup terompet kapal mulai terdengar. Semua orang bergegas menyambut. Tepat pukul 13.00 Wita, KRI Teluk Amboina bersandar di pelabuhan. Dibawah komando Komandan Bataliyon 713 Satya Tama Mayor Inf Hanif Bachmid, satu per satu prajurit mulai turun dari kapal. Beberapa ada yang langsung membentuk barisan, tapi ada sebagian prajurit yang tak tahan untuk segera menyapa anak dan istrinya yang ikut hadir, walaupun hanya untuk sekedar melepas kerinduan. Perjalanan berhari-hari di kapal, seakan tak terasa. Kedatangan para parajurit itu, disambut para petinggi TNI dan Polri, serta unsur pemerintah daerah. Tarian adat pun dipersembahkan, untuk menghormati kerja keras mereka.

350 pesonil TNI AD Bataliyon 713 Satya Tama Gorontalo tiba di pelabuhan Gorontalo

kata Mayor Inf Hanif Bachmid pun sedikit membagi pengalamannya. Seperti saat mereka patroli, kemudian berpapasan dengan pasukan dari negara sebelah. Walaupun sempat tegang, namun pertemuan itu berlangsung baik. Masing-masing prajurit punya komitmen mengamankan wilayah masing-masing. “Akses menuju wilayah perbatasan itu sangat minim, bahkan jaringan selular pun tak ada. Tapi tugas negara terus kami lakukan dengan baik, tanpa ada kontak senjata dan lain hal yang tidak diinginkan,” jelas Bachmid.

Minimnya tenaga pendidik di semua lembaga kependidikan yang ada di ujung wilayah NKRI itu, sempat membuat ia bersama anggotanya turut menjadi guru di masing-masing lembaga yang ada. Mata pelajaran yang diberikan mereka, sama halnya pelajaran yang diberikan guru umum, yang dibaringi dengan pelajaran bela bangsa. “Kami sangat bangga bisa menjadi guru bagi anak-anak disana, apalagi masyarakat disana sangat ramah menyambut kami,” tutur Bachmid.

Tidak sedikit kesan yang didapat dari tugas paling berharga itu. Yakni wawasan mempertahankan kedaulatan NKRI, serta bagaimana cara mendidik dan merangkul masyarakat. Bahkan, pelajaran penting kata Bachmid adalah, mampu menjalin hubungan baik dengan tentara negara sebelah. “Tapal batas NKRI yang kami jaga, seikitpun tidak bergeser dari tempatnya. Dan itu berkat komitmen dan koordinasi yang kami bangun bersama masyarakat setempat,” pungkas Bahcmid.(*/rg)

Berita Terkait

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *