4.441 Perceraian di Gorontalo, 80 Persen Digugat Istri

ilustrasi(Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Angka perceraian di Provinsi Gorontalo, terbilang cukup tinggi. Dalam tiga tahun terakhir hingga Maret 2018, sedikitnya ada 4.441 kasus perceraian yang ditangani pengadilan agama. Menariknya, hampir 80 persen atau tepatnya 3.350 kasus cerai, adalah istri yang menggugat duluan.

Data yang dimiliki Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Provinsi Gorontalo, perceraian di Gorontalo tiga tahun terakhir, ada 4.441 perkara. Dengan rincian, tahun 2016 sebanyak 2.132 perkara, tahun 2017 mencapai 1.727 perkara dan terakhir tahun 2018 sejak Bulan Januari hingga Maret kemarin, sedikitnya 582 perkara. Angka-angka ini merupakan akumulasi data kasus perceraian yang dimiliki PTA Provinsi Gorontalo. Dan paling banyak adalah, istri mengajukan gugatan cerai dengan jumlah 3.350 perkara. Sedangkan cerai ditalak suami, 1.091 perkara.

“Perkara yang telah diputus sebanyak 4.570 kasus, akumulasi dari perkara yang ditangani Pengadilan Agama (PA) se Gorontalo, yang masuk di PTA Gorontalo. Tahun 2016 sebanyak 1.913 perkara, tahun 2017 2.111 dan tahun 2018 sejak Bulan Januari hingga Maret sebanyak 546 perkara,” ujar Hakim Tinggi PTA Provinsi Gorontalo Drs. H. M.A Rohim, SH. MH, saat ditemui di ruang kerjanya Senin (07/05).

Ada beberapa kategori perkara perceraian yang diputus, yakni Kabul sebanyak 441 perkara, Tolak 14 kasus, Tidak Diterima 18 kasus, Gugur 13 kasus, Cabut 50 kasus dan Coret sedikitnya 10 perkara. Menurut mantan Hakim Tinggi PTA Sulut ini, dalam menerima dan mengadili perkara perceraian, pihaknya tidak langsung menggelar agenda sidang. Namun masih ada proses yang disebut pra peradilan, atau upaya mediasi pembinaan kembali terhadap pasangan suami istri.

Dari sekian banyak kasus perceraian ini, yang jadi korban adalah anak. Tak sedikit anak yang kehilangan masa depan, akibat trauma perceraian kedua orang tua. Melihat dari kasus yang ditangani PTA Provinsi Gorontalo, dan wilayah Gorontalo yang bisa dikata Agamais. Hakim Tinggi berharap, masyarakat khususnya mereka yang berrumah tangga, agar dapat mengamalkan nilai pembinaan pra nikah, yang pernah dijalani sebelum resmi menjadi suami istri. “Agar kalimat Sakinah Mawadah Warrahmah, tak hanya menjadi ucapan seremonial belaka, tapi doa pembawa mahligai rumah tangga yang bahagia,” ungkap Hakim Tinggi. (rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *