2017, 38 Orang Mati Karena AIDS

ilustrasi(Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Seiring pesatnya bisnis Prostitusi di Kota Gorontalo, jumlah penderita HIV/Aids juga ikut meningkat. Sedikitnya ada 38 orang yang dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit itu di 2017. LGBT pun menduduki posisi kedua sebagai penderita terbanyak, selisih dua angka saja dari penderita yang heterosex.

Data yang dimiliki Komisi Penaggulangan Aids (KPA) Kota Gorontalo, grafik jumlah penderita yang meninggal dunia, memang fluktuatif dari tahun ke tahun. Kematian terbanyak berada di tahun 2016, dan tahun 2017. Hingga saat ini, ada 134 kasus HIV/Aids dengan rincian, 56 penderita HIV dan 78 penderita Aids.

Dari sisi profesi penderita penyakit yang belum ada penawarnya ini, masih di dominasi mereka berprofesi sebagai karyawan swasta dan wiraswasta, mencapai 38 penderita. Disusul mereka berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) dan Mahasiswa, yang masing-masingnya mencapai 14 orang. dan berbagai profesi lainnya. IRT dan bayi sendiri, rata-rata adalah korban dari penyakit mematikan yang ditularkan oleh sang suami.

“Kebanyakan mereka yang heteroseks penderita penyakit ini, sebanyak 41 orang, urutan ke dua 38 orang mereka yang gay, waria atau lelaki suka lelaki. Sedangkan penasun, itu hanya mencapai 9 penderita, untuk balita yang menderita akibat tertular dari orang tuanya, sebanyak 3 jiwa. Sisanya 5 orang tak diketahui,” jelas Sekretaris KPA Kota Gorontalo dr. Riyana.

Para penderita HIV/Aids ini tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kota Gorontalo. tertinggi ada di Kecamatan Kota Tengah dan Kota Selatan dengan jumlah penderita masing-masing 18 orang. Disusul Kota Timur 9 orang, Sipatana 11 orang dan kecamatan lainnya. Beberapa diantaranya tidak punya alamat jelas.

Upaya Pencegahan

Berbagai upaya terus dilakukan KPA Kota Gorontalo, untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Baik melalui sosialisasi, dan pemeriksaan terhadap masyarakat umum termasuk mahasiswa dan pelajar.  “Dari hasi pemeriksaan kami terhadap 3000 lebih mahasiswa, belum ada indikasi yang tertular penyakit HIV/AIDS,” ujar dr. Riyana.

Disisi lain, upaya yang dilakukan KPA Kota Gorontalo, juga mendatangi tempat-tempat tertentu seperti kos-kosan dan tempat hiburan malam, untuk dilakukan pemeriksaan serupa terhadap penghuni dan karyawan mereka. Dan Riyana akui, pihaknya terkada menemukan kendala ketika melakukan pendeteksian dini, terhadap mereka. Yakni, tidak ada yang mau terbuka, untuk memeriksakan diri. “Padahal yang kami lakukan demi kesehatan mereka, agar supaya tidak tertular penyakit ini,” tutur Riyana.(rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *